Change
  1. Komunitas ini adalah komunitas Indonesia dimana sosialitas yang menjunjung tinggi kebebasan dalam berekspresi dan melakukan tindakan untuk kepuasan pribadi tanpa menganggu kepentingan orang lain.

    Permainan judi bola dan juga judi casino SBOBET merupakan jenis permainan yang sangat disukai masyarakat Indonesia. SBOBET sudah berdiri lebih dari 5 tahun dan sudah menjadi kepercayaan warga sebagai tempat bermain judi bola dan juga judi casino online.


    Link terbaru SBOBET 2019 dibawah ini!

JONI KUMBANG

Discussion in 'Fiksi & Fantasi' started by casio, Aug 28, 2018.

  1. casio Administrator Staff Member

    casio
    JONI KUMBANG (CHAPTER #1)

    SEKAPUR SIRIH


    Entah kenapa aku begitu menyukai menggunakan pembuka: “Sekapur Sirih”. Terasa begitu kuno, naif dan kolot. Meski terbilang usiaku muda, aku senang mendengarkan orang-orang yang lebih tua dariku berbincang mengenang masa muda mereka. Kejayaan mereka. Kemenangan mereka. Kekonyolan mereka. Hingga tak terasa, aku pun ikut-ikutan menjadi tua seperti mereka. Hingga ketika menuliskan blog ini pun, “sekapur sirih” kurasa menjadi pilihan tepat untuk menuliskan kisah dua orang misterius yang kupantau dari blog mereka. Aku yakin bahwa si penulis blog pria adalah seorang lelaki kesepian di sekitar usia empat puluhan. Dan si penulis blog perempuan adalah seorang perempuan sebayaku; usia dua puluhan. Pernah kucoba untuk mengontak kedua penulis tersebut untuk minta ijin membagikan tulisan mereka ke pembaca blog ku.

    Dan setelah upayaku mengontak mereka yang kesekian ratus kali, mereka berdua akhirnya mengijinkan, dengan catatan bahwa aku harus berperan sebagai editor mereka (karena mereka menyadari bahwa mereka sering melakukan kesalahan penulisan dan menurut mereka, bahasa yang mereka gunakan kurang begitu bagus). Mereka juga menetapkan syarat bahwa mereka tidak mau menyebutkan nama sesungguhnya. Si pria minta dituliskan nama samarannya sebagai “Joni Kumbang”, sementara Si Perempuan minta namanya dituliskan sebagai “Rinai Hujan”. Demi menghormati mereka, aku menyetujui persyaratan mereka dan…inilah kisah Joni Kumbang dan Rinai Hujan.


    [​IMG]
    Chapter #1
    Sebenarnya, aku kurang menikmati seks sado-masokhis. Akan tetapi, akhir-akhir ini aku bertemu dengan perempuan-perempuan yang lebih menikmati hubungan seks ketika mereka mengalami perlakuan kasar. Entah gejala jaman apa ini? Sudah kutulis tadi: aku kurang menikmati sado-masokhis, karena pada dasarnya aku ini pria yang lembut. Mungkin, semenjak aku bertemu dengan perempuan sebayaku yang sebut saja namanya: Siska. Siska ini sebenarnya kenalan lamaku, dan aku tidak menyangka jika Siska akan mengajakku berselingkuh dari suaminya yang makin lamban dan membosankan. Suami Siska adalah salah satu pengusaha ternama dan punya banyak perusahaan. Tentu saja Siska jadi sering kesepian ketika ditinggal pergi suaminya untuk keperluan bisnis.



    Awalnya kami bertemu hanya di jejaring Facebook, hingga akhirnya kami berkencan untuk sekedar minum kopi dan kemudian berlanjut di kamar-kamar hotel. Bagiku, Siska seolah jadi ‘ATM berjalan’. Pekerjaanku sebagai mandor bangunan (catatan editor: pekerjaan sebagai mandor bangunan ini pekerjaan sesungguhnya dari Joni Kumbang dan ketika profesinya ini akan disamarkan, dia merasa keberatan). Untuk orang dengan pendapatanku per bulan, jelas tidak mungkin untuk punya gaya hidup kongkow-kongkow di kafe ataupun restoran mahal. Sebagai ‘perjaka tua’, banyak orang mengira aku sebagai penyuka sesama jenis. Hal itu pada kondisi tertentu sangat menguntungkan aku yang sebenarnya bisa dikatakan sebagai hiperseks.



    Masyarakat memang mudah ditipu dengan penampilan luar saja. Dan…keluargaku, tetanggaku, dan orang-orang terdekatku tidak mengetahui kalau aku sering menuliskan pengalaman seksku lewat blog. Aku memang menyukai menulis. Dahulu sekali, ada seorang teman yang memperkenalkanku pada internet dan komputer. Karena keahlian inilah, jabatanku sebagai buruh bangunan lepas bisa naik menjadi mandor dan kadang-kadang membantu kerja administrasi para pemborong ataupun developer yang mengontrakku. Sekalipun pekerjaan otot sudah mulai berkurang, namun aku tetap rajin belajar menggunakan komputer. Lama-kelamaan, aku pun mulai menyukai menulis pengalaman-pengalaman hidupku, terutama pengalaman seksual. Menulis pengalaman seksualku adalah cara untuk menghormati perempuan-perempuan yang bertualang bersama melalui jalur hubungan seksual dan jelas aku akan menyamarkan nama-nama ataupun hal-hal yang akan membuat mereka dikenali. Yang jelas, aku mencintai senggama dengan bermacam perempuan dan sangat menikmatinya. Dosa karena zina, bagiku, hanya mitos belaka.

    Aku percaya bahwa ada keagungan yang misterius dari bertemunya kelamin laki-laki dengan kelamin perempuan.

    Komentar dari Rinai Hujan:

    Hai Oom! Kayaknya Oom ini pejantan tangguh. Boleh aku coba?

    Balasan Komentar dari Joni Kumbang:

    Kamu laki-laki apa perempuan?

    Balasan Komentar Rinai Hujan:

    Perempuan, Oom…Asli! Punya memek…Punya susu, cuman besarnya gak imbang antara kanan ma kiri..xixixixixixi

    Balasan Komentar Joni Kumbang:

    Gak ada gambar, artinya bohong…hahahahaha

    Joni Kumbang: Masih belum percaya! (emot ngakak)

    Rinai Hujan: Uh! Curang!!! Gantian Oom kirim gambar!

    Joni Kumbang: Nih…

    Rinai Hujan: Wakakakakak..Oom ini unyu deh…Minta no.telp dunkz…

    Joni Kumbang: 08**********69

    Rinai Hujan: Buset!! Emang sex addict niii…Pake 69!!! Wakakakaka

    Joni Kumbang: Eh…Aku mau ngamar dulu…Panggilan alam nih…

    Rinai Hujan: Ngentot?

    Joni Kumbang: Gak! Mau boker!!! Hahahahaha

    Rinai Hujan: Oom…Aku mau coli dulu yak…

    Joni Kumbang: Silakaaaaan…Hahahaha



    bersambung
     
  2. casio Administrator Staff Member

    casio
    [​IMG]
    JONI KUMBANG (CHAPTER #2)

    Cerita no.1 dari Rinai Hujan

    Aku bisa merasakan kesepian yang dialaminya. Bukan karena ketiadaan pasangan untuk menyalurkan naluri purbanya. Bukan pula ketiadaan perhatian dari teman-temannya. Kesepian yang sedemikian murni! Bahkan bisa dikatakan sebagai “kesepian yang merasa sepi”. Kosong yang paling kosong…Ah, seandainya engkau ada di dekatku, akan aku kenalkan pada kesepianku. Mungkin kesepian kita bisa berteman dan bisa jadi sahabat. Kedua kesepian itu akan menyebarkan energi kesepian kepada semua orang yang membutuhkan, dan orang-orang jaman sekarang akan sangat berterima kasih karena sudah dialiri energi kesepian. Mereka tak lagi mengutuk kesepian di lantai diskotik, ataupun temaram ruang cafe. Mereka tak lagi jengah dengan hambarnya pasangan masing-masing; pasangan yang kelaminnya telah lembam oleh teknologi. Penis dan vagina pun bersorak dengan riang ketika mereka menemukan kesepian yang paling hakiki.



    Debar jantung pun bisa menemukan iramanya yang paling indah jika ia bisa memahami kesepian rongga dada, ketika tangan pasangan menyentuh ujung penis ataupun ujung klitoris. Pangkal kenikmatan organ kelamin yang menemukan ruang hampa namun masih mendengar merambatnya gelombang suara dari detak jantung. Bidang gelap dari perasaan itu seperti candu yang mengikat penat rambut-rambut kelamin untuk tumbuh namun tetap harus menghadapi ganasnya pisau cukur.



    Joni Kumbang (JK): Ini bukan cerita tentang aku kan? (ge-er..hahahaha)

    Rinai Hujan: Kasih tau gak ya? xixixixixixi

    JK: Rumit…

    RH: Oh ya?

    JK: Ho-oh

    RH: Umur berapa sih?

    JK: 40 tahun ini

    RH: Pantes

    JK: Sana coli!

    RH:Males

    JK:Ok



    Catatanku sebagai editor:

    Pertemuan antara Joni Kumbang dengan Rinai Hujan benar-benar murni kebetulan. Jika sedang sulit tidur, Joni Kumbang sering pergi ke warnet; kadang sekedar untuk nyampah di blognya, kadang memang ada janji bertemu dengan beberapa perempuan yang mengajaknya bercinta. Yang jelas, dia menolak jika disebut sebagai gigolo. Hingga pada suatu waktu saat iseng berselancar di dunia maya, Joni Kumbang melihat tulisan dari Rinai Hujan. Beberapa baris puisi pendek.



    Jika aku reda, belum tentu ada pelangi

    Meski lembab, janjimu tak akan abadi



    Puisi Rinai Hujan sulit dipahami oleh Joni Kumbang. Joni Kumbang tetap menuliskan pengalaman seksnya saja dan tidak tertarik menuliskan puisi. Hingga pada hari itu, Rinai Hujan mengomentari tulisan Joni tentang Siska. Dan mereka pun berkenalan.

    Suatu kebetulan yang aneh. Rinai Hujan masih selalu menunggu up-date tulisan-tulisan Joni. Dan semenjak perkenalan itu, mereka memang masih belum bertemu.



    Cerita no.2 dari Joni Kumbang



    Siska semakin nekat saja. Hampir tiap hari dia mengontakku untuk mengajakku bercinta. Aku merasa malas sebenarnya, apalagi pekerjaan mendirikan bangunan perumahan sedang gencar-gencarnya. Kelelahan karena pekerjaan, membuat kualitas seksku menurun. Namun Siska nampaknya sudah tidak perduli. Baginya, penisku mungkin semacam vitamin bagi hidupnya. Hahahahaha. Hal itu jadi keuntungan bagiku buat minta tambahan ‘vitamin’ juga. Siska sudah paham dengan kondisiku. Berapapun uang “vitamin” yang kuminta, dia berikan cash. Tapi aku tegaskan lagi; aku bukan gigolo, karena uang vitamin itu benar-benar kubelikan obat-obatan, aneka minyak pembesar penis dan makanan-makanan yang banyak mengandung protein, yang pada akhirnya, Siska juga yang merasakan manfaatnya.



    Hingga pada akhirnya aku berterus terang aku berterus terang pada Siska jika aku sudah malas bercinta dengan alat-alat untuk sado-masokhis. Pada awalnya Siska memang kecewa. Tapi, mungkin karena sudah benar-benar ketagihan seks, dia bisa menerima. Menurutku, bercinta dengan Siska memang unik. Dia selalu melakukan semacam ritual sebelum bercinta. Hal yang selalu dia lakukan adalah membakar beberapa batang dupa. Katanya, kamar untuk bercinta haruslah ada suasana yang magis. Selain itu, dia juga akan menaburkan beberapa bunga warna-warni. Setelah bakar dupa, tabur bunga, Siska biasanya akan bersila untuk meditasi beberapa saat. Dia tidak menyuruhku untuk melakukan apa-apa. Paling-paling cuma disuruh untuk duduk di ranjang dan melepas semua pakaianku.



    Setelah meditasi, Siska mendekatiku di ranjang. Semua pakaiannya lepas teronggok di kursi sudut ruang kamar. Bagi perempuan seumuran Siska, bentuk tubuhnya adalah anomali. Tubuhnya seperti perempuan umur dua puluhan. Ramping namun padat. Kulitnya pun sedemikian putih mulus, jelas karena suaminya pengusaha kaya maka tidak sulit bagi Siska untuk melakukan perawatan di salon ternama. Dadanya standar, tidak sebesar seperti artis bokep, namun padat dan menggairahkan. Meski rambut kelamin di sekitar vaginanya tidak dicukur, namun kelihatan bersih dan terawat. Siska kemudian merebahkan tubuhnya secara perlahan di ranjang. Begitu tenang. Perlahan, Siska membuka dua kakinya. Itu pun juga sedemikian perlahan dan tenang. Hal itulah yang membuatku bergairah. Namun seperti terkena sihir, aku pun juga ikut arus ketenangan yang ditebarkan oleh Siska. Begitu perlahan kudekati vaginanya. Aroma bunga menguar dari dari vagina itu. Bau harum dan menggoda. Kuciumi vagina Siska dengan khidmat. Siska pun menggelinjang karenanya. Gerak pinggulnya yang awalnya pelan, bertambah semakin garang manakala lidahku mengenai klitorisnya.



    Nafas Siska memburu. Tangannya menjambak rambut kepalaku, seolah ingin ditenggelamkan semuanya di dalam vaginanya. Beberapa saat kemudian, Siska mengejan dengan rintihan panjang. Aku sudah hafal dengan gerakan Siska yang seperti ini. Ganti payudaranya yang sebelah kanan yang kujilati, namun tanganku berpindah ke vaginanya. Gerakan tanganku yang makin cepat dan gigitan pelan di putting payudaranya membuat Siska mengejang dengan dahsyat. Tanganku pun akhirnya terasa hangat karena cairan yang keluar dari vagina Siska. Belum sempat aku menarik nafas, ganti Siska dengan sigap meraih penisku. Aku harus bisa mengontrol penisku, supaya sperma tidak segera keluar. Ganti aku yang merebahkan diri di ranjang dan mengatur nafas. Sementara itu, lidah Siska dengan gerakan tak terduga akan menjilati kepala penisku. Hisapan mulut Siska di penisku benar-benar membuatku merasakan detak jantung yang makin memburu. Siska pun cepat tanggap. Posisiku yang rebahan, membuat dia pada posisi Woman On Top. Penisku segera menancap di vaginanya. Siska kemudian mengoptimalkan posisinya untuk meraih orgasme berikutnya. Gerakannya naik turun, memungkinkan klitorisnya tergesek maksimal oleh penisku. Gerakan pinggul Siska makin cepat ditimpa oleh desahan-desahannya membuatku makin terhanyut pada irama permainannya. Kuraih dan kumainkan dadanya seirama gerakan pinggulnya. Ternyata itu membuat Siska bertambah kenikmatannya, hingga akhirnya Siska mengejang kembali karena orgasme.



    Siska terkulai lemas di sampingku. Kami ambil jeda sejenak, tapi tangan Siska tetap meraih penisku, seolah dia tidak mau kehilangan momen tegangnya. Masa jeda seperti ini memang bisa menguntungkan bagi kami. Mundur sejenak demi kepuasan yang lebih dahsyat. Kujilati belakang telinganya dan area sekitar leher. Itu membuat Siska rileks sekaligus terangsang kembali. Dengan gerakan seperti macan betina lagi lapar, Siska bangkit dari berbaringnya dan nungging di depanku. Ah, permainan yang menyenangkan! Doggy Style! Segera saja penisku kugesek-gesekkan terlebih dulu di mulut vaginanya. Siska meremas sprei ranjang dengan gemas, pertanda dia sudah tidak sabar untuk segera merasakan sensasi tusukan penisku. Hahahaha…Kadang dia memang harus menjadi diktator. Menjadi dirigen yang memimpin irama permainan.



    Baiklah…Penisku yang sudah dalam poisisi voltase tinggi pun menghajar liang senggama Siska dengan dahsyat. Siska pun tampak terpuaskan dengan posisi seperti ini. Tiba-tiba dia meraih tanganku yang awalnya ada di pingggangnya. Posisi tanganku dipindah ke kepalanya. Bahasa kode dia minta dijambak. Dia menginginkan ada sedikit rasa sakit, meski di awal permainan ini aku menolak melakukan sado-masokhis. Sempat ada dilema di pikiranku, apakah aku akan sedikit kasar kepada Siska?. Naluriku kemudian yang bekerja. Dengan kehati-hatian tingkat tinggi, rambut Siska tetap kujambak juga. Dia mengerang kenikmatan. Akhirnya tetap kuteruskan menjambak rambutnya. Siska pun menggerakkan tubuhnya maju-mundur dengan cepat. Aku pun merasakan bahwa ejakulasiku akan sampai beberapa detik lagi. Kulepas jambakan tanganku dari kepala Siska. Dengan pukulan terkontrol di pantatnya, Siska makin bergairah. Suara erangan Siska pun akhirnya memicu proses awal ejakulasiku yang masih bisa kukontrol. Penis kulepas dari vagina Siska dan Siska pun sudah siap menampung spermaku di mulutnya. Saat spermaku muncrat ke dalam mulut Siska, proses ruang kosong terjadi beberapa detik di otakku.



    Aku hanya bisa memejamkan mata dan melenguh pelan karena kenikmatan luar biasa tidak hanya di wilayah penis saja. Semua otot dan uratku pun merasakan kenikmatan itu. Lututku pun terasa lemas dan aku jatuh terbaring di ranjang. Siska agresif menghisap penisku dan sepertinya tidak ingin kehilangan setetes spermaku di mulutnya. Aku benar-benar merasakan sensasi kehilangan kesadaranku untuk beberapa detik. Dan itu memang benar-benar hal misterius yang sulit untuk diceritakan. Siska pun rebahan di sampingku dan membisikkan bahwa dia terpuaskan dan ingin mengulang lagi. Ah, sulit menolak ajakan Siska seperti ini. Hahahaha. Tak masalah, toh pekerjaanku lagi tidak banyak. Aku bisa ada waktu beristirahat.



    Siska tertidur dengan senyuman tersungging di bibirnya. Ada yang aneh kurasakan saat melihat Siska tertidur. Tiba-tiba aku seperti masuk ke dalam dunia pikirannya. Aku melihat yang berbeda antara tubuh Siska yang tampak oleh mata dengan tubuh Siska yang kulihat melalui dunia pikirannya. Tubuh Siska sebenarnya adalah tubuh yang rapuh dan mengalami kesedihan tak terperi. Kupeluk Siska dengan pelukan terbaik yang bisa kulakukan dan Siska pun balas memeluk dengan segenap perasaannya. Saat kukecup keningnya, aku melihat bulir air matanya menetes. Aku tidak salah. Ada kepedihan di ruang batin Siska yang tidak segera terlihat jika pertama kali bertemu dengannya.



    Komentar Rinai Hujan: Kok seperti tulisan cerita-cerita panas nih Oom?

    Balasan Joni Kumbang: Hahahaha…Baca baik-baik!

    RH: Lha emang kayak gitu kan?

    JK: Besok tunggu tulisanku yang lain…

    RH: Bukan janji parpol kan Oom?

    JK: Hahahahaha…Kamu coli aja kalau terangsang baca ceritaku…

    RH: Udah keluar dari tadi…hahahahaha

    JK: Sendirian?

    RH: Gak…Ada partner yang bantuin…Hahahaha



    Catatan editor:



    Menyimak Joni Kumbang dan Rinai Hujan berbalas komentar, sangatlah menarik. Mereka mempunyai keakraban yang ganjil. Perbedaan usia bisa terjembatani oleh media internet. Dunia maya. Dunia di mana setiap orang bisa memakai topeng apa saja. Kejujuran tentulah menjadi hal mewah di mana setiap lapisan-lapisan keaslian wajah bisa membawa ke dunia yang lain ataupun ke wilayah-wilayah yang antah-berantah dan bisa menyesatkan siapa saja yang tidak waspada.

    (bersambung)
     
  3. casio Administrator Staff Member

    casio
    [​IMG]

    Catatan Editor:


    Joni Kumbang mengirim e-mail kepadaku. Setelah kubuka file kirimannya, aku baru tahu kalau ternyata Joni Kumbang membuat tulisan tentang Rinai Hujan. Rinai Hujan dan Joni Kumbang belum juga bertemu secara fisik, namun mereka ternyata sudah intens berkomunikasi. Rinai Hujan menceritakan pengalaman seksualnya secara blak-blakan kepada Joni Kumbang. Joni sudah meminta ijin pada Rinai Hujan untuk menuliskannya dan Rinai Hujan menyetujui untuk ditulis oleh Joni Kumbang. Joni Kumbang memintaku untuk mengedit tulisannya, karena menurutnya ada beberapa hal yang dia merasa kurang puas dengan tulisannya sendiri. Kusanggupi dan kuminta Joni Kumbang membaca kembali setelah kuedit. Tulisan yang pembaca baca sekarang ini adalah tulisan tentang Rinai Hujan yang sudah kuedit dan mendapat persetujuan dari Joni Kumbang untuk diupload.



    Cerita dari Rinai Hujan

    (Versi Joni Kumbang)



    Menjadi pemandu karaoke itu pekerjaan yang bisa dikatakan berat. Hampir tiap malam harus begadang dan menemani para lelaki yang sedang jenuh dengan istri. Tentu saja, rok mini, baju ketat, badan harum merangsang harus selalu ditampilkan, demi tip yang lebih besar dari gaji harian. Aku beruntung dikaruniai fisik yang cukup mampu untuk membuat lelaki mana pun akan melihat dan tunduk pada kerlingan mataku saja. Pelatihan-pelatihan menjadi pemandu lagu karaoke yang dilakukan oleh para seniorku makin membuatku mampu untuk lebih cepat dan tanggap pada keinginan klien. Aku hanya perlu lebih adaptif pada sentuhan-sentuhan lelaki-lelaki kesepian itu.



    Pada hari-hari pertama bertugas, belum ada klien yang bermasalah. Sepertinya supervisorku memang mengatur supaya aku bertemu dengan klien-klien standard. Namun, pada minggu ke-2, akhirnya datang seorang klien yang tampaknya berkawan baik dengan supervisorku. Supervisorku menyuruhku untuk menemani klien spesial itu, yang katanya seorang pebisnis terkenal, berusia sekitar 40 tahun, dan tentunya banyak uangnya. Hahahahaha…Klien kakap nih!



    Sempat aku deg-degan dengan situasi ini, namun keinginanku untuk bisa bertahan hidup di kota ini jau lebih kuat dibandingkan dengan kekhawatiran-kekhawatiran yang tidak penting. Ketika pintu ‘private room’ yang dipesan oleh klien itu kubuka, ternyata dia sudah ada di dalam ruang itu. Seorang lelaki matang dan rapi, namun misterius. Penampilannya tampak simpel, namun berkelas. Dari aroma parfumnya, jelas dia bukan lelaki sembarangan.



    “Hendra…”

    Lelaki itu mengulurkan tangannya kepadaku.

    “Oliv…”

    Aku memang dipesan oleh supervisorku untuk tidak menyebutkan nama asliku.

    “Ah…seperti nama restoran ayam goreng?”

    “Ah…Kak Hendra bisa ajah…”



    Hendra kemudian menyuruhku duduk di sampingnya dan menyiapkan minuman yang dia pesan; tequila, dan kulayani sebaik mungkin. Sengaja kutuang minuman dengan gaya se-sexy mungkin dan dengan cepat Hendra meresponnya dengan segera menepuk pantatku. Aku pura-pura kaget dan menjerit.



    “Oliv…tuang juga Tequila itu buatmu…Putar lagunya nanti saja…Aku belum pingin brisik…”

    “Oke Kak…”



    Kami segera menikmati Tequila itu. Sempat kulirik ekspresi Hendra saat menenggak gelas pertamanya. Sepertinya dia sedang ada masalah berat dan berusaha menyimpan rapat masalahnya itu.



    “Oliv…Aku gak suka basa-basi…”

    “Maksud Kak Hendra?”

    “Sepong penisku sekarang…”



    Kata-kata Hendra keluar secara datar namun ada kekuatan memaksa yang sulit kujelaskan. Seperti terhipnotis, aku pun segera merespon dengan menyentuh penisnya. Kuraba-raba dengan perlahan. Hendra pun memejamkan mata, seolah ingin benar-benar menikmati sentuhanku di penisnya. Aku pun berlutut di hadapannya dan mulai kubuka ritsliting celananya. Tangan Hendra pun bergerak menyentuh dadaku dan meremas dengan perlahan seirama remasanku pada penisnya. Saat kupegang, penis Hendra terlihat begitu lemas namun bau harum segera menyeruak. Benar-benar lelaki yang sadar akan kebersihan. Celana Hendra pun kutarik turun supaya aku bisa leluasa bermain dengan penisnya. Tidak begitu lama Hendra meremas-remas dadaku, meski sebenarnya putingku sudah terasa menegang.



    Kucium kepala penis Hendra. Batang penisnya kuremas dengan hati-hati. Ternyata memang penis Hendra sulit untuk tegang. Mungkin memang Hendra sedang punya masalah, sehingga penisnya mengalami gangguan ereksi. Sebagai pancingan, aku membuka bajuku, dan kuraih tangannya untuk menyentuh dadaku. Hendra jadi kaget dan terbelalak matanya melihatku sudah setengah telanjang dan tangannya sudah di dadaku.



    “Mau kan?”

    “Ah…Nikmat sekali dadamu, Oliv…”

    “Jilat dong…”

    Aku duduk di pangkuan Hendra, dan dengan beringas dia segera menjilati dadaku.



    “Aaaaah…aaahh….shhhhh”

    Kurasakan penis Hendra mulai menegang. Kuraba-raba bagian zakarnya dan penisnya mengeras dengan cepat. Ternyata pancinganku berhasil membuat Hendra ereksi. Aku turun lagi dari pangkuannya dan dengan gerakan mulut yang lincah, penis Hendra sudah kukulum. Tubuh Hendra terhentak ke belakang. Sepertinya dia mengalami sensasi dari oral sex yang kuberikan padanya. Aku pun sudah gemas dengan mencium aroma wangi dari penis Hendra.

    Kukulum hingga pangkal penisnya. Sesekali lidahku kumainkan di pangkal pahanya, sambil batang penisnya kukocok dengan gerakan cepat.



    “Oliv..Tissue! Tiss…..sue….! Hampir keluar innn….niiih…

    Hendra mengerang dan memintaku menyiapkan tissue. Sperma terlanjur sudah muncrat ke dadaku. Lumayan banyak dan kental. Penis Hendra masih kupegang dan mulai mengendur. Sisa sperma kubersihkan dengan tissue. Nafas Hendra masih memburu. Kudekati wajahnya dan Hendra mencium bibirku dengan mesra. Aku benar-benar menikmati ciuman itu. Hendra terlihat puas meski mungkin sebenarnya merasa malu, karena dia sudah ejakulasi dalam hitungan menit. Hendra segera memakai celananya lagi, dan aku pun memakai bajuku lagi. Tequila kami habiskan dan Hendra memilih koleksi lagu slow rock tahun ‘90an. Baru pertemuan pertama saja, Hendra sudah memberiku tip banyak sekali, di luar kebiasaan klien-klien yang pernah kutemui. Aku jadi paham, kenapa supervisorku memintaku yang melayani Hendra. Ternyata dia benar-benar klien yang istimewa; sosok klien yang tidak pelit untuk mengeluarkan uang. Sebelum pulang, Hendra memberiku kartu nama.



    “Kontak aku, jika kamu perlu sesuatu…”

    “Makasih, Kak…”



    Kuikuti Hendra hingga ke parkiran mobil. Ternyata Hendra diantar seorang sopir. Mobil Hendra adalah mobil termewah di kelasnya dan keluaran terbaru. Mungkin suatu saat, memang aku akan mengontak dia. Jelas Hendra sudah memberiku akses kepadanya. Supervisorku sudah menungguku di loby.



    “Gimana?”

    “Asik, Boss…”

    “Hendra yang memilih kamu sebenarnya…Katanya, wajahmu mirip dengan istrinya…”

    “Oh ya?”

    “Ya…Ehmm…Sudahlah…Sekarang kamu siap-siap. 30 menit lagi akan datang tamu spesial lagi…”

    “Siap, Boss!”



    Ternyata…Mungkin gangguan ereksi yang dialami Hendra karena istrinya mungkin sudah tidak menggairahkan lagi? Atau, mungkin ada penyakit tertentu? Ah…entahlah…Aku hanya bisa menduga. Mungkin di pertemuan-pertemuan kami selanjutnya, aku akan bisa tahu lebih banyak. Wajah Hendra yang misterius, membuat aku penasaran akan pertemuan-pertemuan selanjutnya.



    (bersambung)
     

Share This Page